Judul resensi : sekeping cinta untuk ayah
Penulis : Riri permata sari
Penerbit: pt erlangga pustaka
Jumlah halaman: 112 halaman
Tebal : Xii
Harga: Rp: 35.000
Nama penerbit resensi : erlangga book
" the power of love" demikian kecintaan sang ayah, segala upaya dilakukan untuk membahagiakan sosok yang begitu dikaguminya itu.
Semua berawal ketika ikal menemukan foto ditempat tersembunyi dirumahnya , foto itu tampaj sosok pria sedang menggengam tropi . Ika sangat penasaran dengan foto tersebut, berhari - hari ia diselimuti oleh rasa penasaran ,siapa sosok lelaki itu? Ketika ikal mengetahui siapa lelaki yang memegang tropi disana. Iya tak dapat berkata-kata saat mendengar cerita pilu tentang kisah hidup lelaki tersebut . Hanya dendam membara dirasakan untuk mengembalikan semua kebahagian yang telah
Ikal yang awalnya tidak menggilai bola, menjadi begitu tergila-gila, bahkan hampir benar-benar gila. Ia berlatih sepakbola secara rutin demi bisa bergabung dengan PSSI, klub yang sangat dikagumi ayahnya. Berkat kegigihannya itu, seleksi semi seleksi berhasil dilaluinya. Hanya saja ketika tinggal selangkah lagi untuk menggapai impiannya itu, semua harus berakhir dengan kekecewaan yang mendalam. Tuhan belum mengizinkannya untuk bergabung dengan PSSI. Namun pada saat-saat tersulit itu, kata-kata sang Ayah menggetarkan hatinya : “ Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya “.
Begitu besar kecintaan yang ditunjukkan Ikal terhadap "sang ayah " dalam novel ini."Tak satu jalan ke Roma. "Kira-kira dengan ungkapan itulah ia berkelana ke Benua Eropa untuk bertemu dengan Klub Sepakbola kedua yang digemari "sang ayah"setelah PSSI, yakni "Real Madrid", yang kemudian menjadi Klub Favoritnya juga. Bekal hidup sehari-hari yang tidak memadai membuat Ikal harus bekerja keras di negeri orang. Siang hari menjadi tukang cat dan angkat perabot. Sedangkan pada malam hari ia menjadi asisten pembantu dari pembantu pelatih utama (General Assistant, nama kerennya, kacung kenyataannya), yang bertugas mengambil bola dan mengumpulkan kaus para pemain bola. Namun demi bisa mengumpulkan uang untuk membeli kaus "Luis Figo" dan melihat Klub Junior "Barca" berlatih, semua itu masih terasa ringan untuknya. Pada akhirnya, nasib baik pun tak betah menjauh dari Ikal. Ia mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan lebih dari apa yang ia bayangkan.
Novel ini tak hanya menceritakan tentang kecintaan Ikal terhadap Sang ayah, namun juga terhadap Tanah Air kita sendiri, Indonesia. Betapapun banyak klub-klub sepakbola yang berkompeten di luar sana, ia tetap menempatkan PSSI pada urutan pertama di hatinya. Kekuatan tekad untuk memperbaiki nasib buruk bangsa kita, dan kebanggaannya bernaung di bawah negara yang padanya para pahlawan kita rela menumpahkan darah, seharusnya dapat menjadi suatu fokus yang harus kita perhitungkan, yang tidak hanya sekedar dibaca.
0 komentar:
Posting Komentar